Operasi LASIK membantu memperbaiki kelainan refraksi dengan membentuk ulang kornea menggunakan laser. Prosedur ini sering dipilih oleh penderita mata minus, plus, atau silinder.
Meski populer, tidak semua mata memenuhi syarat medis untuk tindakan ini. Dokter perlu memastikan kondisi kornea, ukuran refraksi, dan kesehatan mata secara menyeluruh.
Ciri-Ciri Mata yang Cocok untuk Operasi LASIK

Ciri utama kandidat LASIK adalah ukuran kacamata yang stabil. Biasanya, dokter meminta ukuran tidak berubah selama 12 sampai 24 bulan.
Usia juga menjadi pertimbangan penting dalam Operasi LASIK. Pasien umumnya harus berusia minimal 18 tahun, meski sebagian dokter menyarankan usia 21 tahun.
- Ukuran minus, plus, atau silinder stabil minimal satu tahun.
- Kornea memiliki ketebalan cukup, umumnya di atas 500 mikron.
- Permukaan kornea rata dan tidak menunjukkan tanda keratokonus.
- Mata bebas infeksi aktif, katarak, dan glaukoma berat.
- Produksi air mata masih cukup untuk mendukung pemulihan.
Dokter juga menilai kondisi retina dan saraf optik. Pemeriksaan ini penting karena LASIK bekerja pada kornea, bukan bagian dalam mata.
Batas Ukuran Minus, Plus, dan Silinder untuk LASIK
Setiap pasien memiliki batas aman yang berbeda. Dokter menentukan batas tersebut berdasarkan ketebalan kornea dan hasil pemetaan mata.
Secara umum, LASIK lebih sesuai untuk kelainan refraksi ringan hingga sedang. Pada ukuran sangat tinggi, dokter bisa menyarankan metode lain.
| Jenis Kelainan Refraksi | Kisaran yang Umum Dipertimbangkan | Catatan Medis |
|---|---|---|
| Miopia atau mata minus | -1.00 sampai -13.00 dioptri | Perlu kornea cukup tebal. |
| Hipermetropia atau mata plus | +1.00 sampai +4.00 dioptri | Beberapa kasus bisa lebih tinggi. |
| Astigmatisme atau silinder | Hingga 5.00 atau 6.00 dioptri | Tergantung bentuk kornea. |
Angka tersebut bukan izin otomatis untuk menjalani tindakan. Evaluasi dokter tetap menentukan kelayakan Operasi LASIK secara aman.
Kondisi yang Membuat LASIK Perlu Ditunda

Beberapa kondisi tubuh dapat memengaruhi hasil pemeriksaan mata. Karena itu, dokter bisa meminta pasien menunda tindakan sampai kondisi lebih stabil.
Ibu hamil dan menyusui biasanya perlu menunggu beberapa bulan. Perubahan hormon dapat memengaruhi ketebalan kornea dan kestabilan penglihatan.
- Hamil atau masih menyusui.
- Diabetes belum terkontrol dengan baik.
- Penyakit autoimun aktif, seperti lupus atau rheumatoid arthritis.
- Mata kering berat yang belum tertangani.
- Masih memakai lensa kontak sebelum pemeriksaan.
Pengguna lensa kontak perlu berhenti sementara sebelum pemeriksaan. Tujuannya agar kornea kembali ke bentuk alami saat dokter melakukan pengukuran.
LASIK sebaiknya dilakukan saat kondisi mata dan tubuh stabil, bukan saat hasil pemeriksaan masih berubah.
Pemeriksaan Pra-LASIK yang Perlu Dilakukan

Pemeriksaan pra-LASIK membantu dokter menilai keamanan tindakan. Tahap ini juga mengurangi risiko komplikasi setelah operasi.
Pasien biasanya menjalani beberapa tes dalam satu kunjungan. Hasil setiap tes akan dibandingkan sebelum dokter memberi rekomendasi.
- Topografi kornea untuk memetakan bentuk dan kelengkungan kornea.
- Pachymetry untuk mengukur ketebalan kornea secara presisi.
- Tonometri untuk memeriksa tekanan bola mata.
- Schirmer test untuk menilai produksi air mata.
- Pemeriksaan tajam penglihatan dengan alat dan lensa uji.
- Foto fundus untuk memeriksa retina dan saraf optik.
Jika hasil tes menunjukkan risiko tinggi, dokter dapat menunda tindakan. Pada beberapa kasus, dokter menyarankan perawatan mata kering terlebih dahulu.
Mengapa Tidak Semua Mata Bisa Menjalani LASIK?

LASIK mengubah jaringan kornea secara permanen. Karena itu, kornea harus cukup kuat untuk mempertahankan bentuknya setelah tindakan.
Kornea yang terlalu tipis dapat meningkatkan risiko ektasia kornea. Kondisi ini membuat kornea melemah dan bentuknya berubah setelah operasi.
Dokter juga mempertimbangkan gaya hidup dan kebutuhan visual pasien. Orang dengan pekerjaan tertentu mungkin memerlukan penilaian tambahan sebelum Operasi LASIK.
Jika Anda ingin mengetahui kelayakan mata, jadwalkan pemeriksaan dengan dokter mata. Keputusan terbaik selalu berasal dari data pemeriksaan yang lengkap.

